Saya membuat blog ini karena ...

... sulit sekali menemukan informasi mengenai jenis tanaman dari situs pemerintah yang ada di Indonesia. Blog ini tidak perlu ada andaikan saja pemerintah Indonesia bisa mencontoh apa yang dilakukan pemerintah negara tetangga untuk mencatat dan mempromosikan keanekaragaman hayatinya. Para bapak/ibu pejabat yang sering studi banding ke luar negeri, tolong pelajari bagaimana negara tetangga mempedulikan keanekaragaman hayatinya : Atlas of Living Australia | FloraBase - The Western Australia Flora | Plants and Animlas of Northern Territory | Digital Flora of Papua New Guinea | Philippine Biodiversity | Malaysian Flora and Fauna | Biodiversity Portal of Singapore | Dicari, URL situs serupa untuk Indonesia! Ditemukan: fObi, tapi bukan prakarsa pemerintah.

Senin, 02 Juni 2014

Langir



Langir atau merbuan (Albizia saponaria) adalah sejenis pohon anggota suku Fabaceae. Pepagannya mengandung saponin, yang menjadikannya berbuih di air, dan dapat dipergunakan –terutama di masa lalu– sebagai sabun dan pencuci rambut. Pohon kecil ini menyebar di Malaysia, Filipina, dan sebagian wilayah Indonesia.
Nama-nama daerahnya di antaranya langir (Mly.), merbuan (Blt.), fofau (Ternate, Halmahera), patèh abal (Ambon), dan lain-lain. Di Filipina dikenal sebagai salingkugi, sedangkan dalam bahasa Inggris disebut whiteflower albizia.

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
(tidak termasuk)         Eudicots
(tidak termasuk)         Rosids
Ordo:   Fabales
Famili: Fabaceae
Genus: Albizia
Spesies: A. saponaria
Nama binomial
Albizia saponaria (Lour.) Blume ex Miq. (1855)


Sinonim
Mimosa saponaria Lour. (1790)
Inga saponaria (Lour.) Willd. (1806)
Albizia salajeriana Miq. (1855)
Albizia tomentella Miq. var. salajeriana (Miq.) Koord. (1898)
Abarema nediana Kosterm. (1958)
  

 

Pengenalan

Perdu atau pohon kecil, tinggi 5–10(–24) m berbatang lurus dan rata. Daun-daun majemuk menyirip berganda, dengan 2 pasang sirip, pasangan sirip yang ujung lebih besar daripada pasangan di pangkal; tulang daun utama 5–14,5 cm, berambut rapat, dengan kelenjar dekat pangkal tangkai daun. Anak daun 2-3 pasang per sirip, bundar telur hingga jorong, 3,5–12 × 2,5–7 cm, berujung tumpul atau tiba-tiba meruncing.
Perbungaan berkumpul dalam malai terminal, yang tersusun dari bongkol-bongkol bunga, malai berukuran 15–33 × 9–20 cm, porosnya berambut sikat pendek dan rapat. Bongkol berdiameter 1-2 cm, berisi 6–12 bunga berwarna putih; kelopak bunga tinggi lk 2 mm, bergigi 0,3–0,6 mm; mahkota 3–4 mm, bertaju lk 1,5 mm; benang sari 12–15 mm. Buah polong pipih panjang, 7–18 cm × 2,5–3,2 cm, cokelat, tepinya menebal, berbiji 5–12. Biji pipih, jorong, 6 × 3 mm, cokelat gelap.

Ekologi dan agihan

Pohon fofau tumbuh di ladang-ladang, semak, dan di dekat pantai; di Makassar pohon ini ditemukan tumbuh di tepi-tepi sungai. Di Fiji, pohon ini ditanam tersebar dan di sana-sini di dataran rendah meliar, terutama di kanan-kiri jalan membentuk semak-semak.

Manfaat

Sabun

Pepagannya yang berbau tidak enak, mengandung banyak saponin dan sedikit alkaloid, digunakan untuk keramas; juga kulit akarnya. Kulit batang dan kulit akar itu adakalanya dijemur dulu, agar kandungan bahannya tidak terlalu tajam di badan. Orang Makassar, di masa lalu, memilih menggunakan daunnya –yang tidak seberapa keras kandungan bahannya– untuk mandi dan keramas.
Kandungan saponin pada pepagan langir cukup tinggi, sehingga layak diperdagangkan sebagai sabun di Malaysia dan Filipina. Kulit kayu langir dan beberapa spesies Albizia lainnya mengandung zat yang dapat digunakan sebagai racun ikan dan pestisida.

Bahan obat dan pestisida

Kulit batang dan akar A. saponaria juga mengandung senyawa yang berpotensi sebagai pestisida. Uji fitokimia terhadap kulit batang dan akar langir menunjukkan adanya kelompok senyawa saponin triterpen, alkaloid, tanin, dan flavonoid.
Orang Gorontalo menggunakan kulit batang yang diremas-remas untuk mengolah umbi gadung (Dioscorea hispida) yang beracun. Buih yang keluar dari pepagan atau daun yang diremas-remas itu juga dapat digunakan untuk mengatasi sengatan lebah dan tabuhan.

Kayu

Menurut Heyne, kayu gubal pohon ini keras namun intinya lunak, sehingga kayunya tidak begitu bernilai. Namun beberapa catatan yang lain menyebutkan bahwa kayunya dimanfaatkan sebagai kayu pertukangan.
Kayu A. saponaria tergolong ke dalam kayu yang berbobot sedang, dengan densitas 520–870 kg/m³ pada kadar air 15%. Keawetan kayu langir dinilai menengah; percobaan kuburan di Filipina mendapatkan bahwa kayu A. saponaria bisa bertahan selama hingga 3 tahun, berada di antara kayu sengon (A. chinensis) yang hanya bertahan 16 bulan dan kayu weru (A. procera) yang mampu mencapai 10 tahun.

Bahasa

Dari kegiatan menggunakan kulit kayu langir untuk membersihkan badan dan rambut, terbit perkataan-perkataan berlangir dan melangir, yakni mencuci rambut dengan memakai pepagan langir atau bahan yang serupa dengan itu (misalnya limau).
Langir juga digunakan untuk menyebut pepagan saga (Adenanthera pavonina), yang memiliki sifat-sifat serupa.

Rambai




Buah Rambai
Rambai (Baccaurea motleyana) adalah sejenis buah-buahan dan tumbuhan penghasilnya yang tumbuh liar atau setengah liar di kebun-kebun Asia Tenggara, seperti Thailand, Malaysia, dan Indonesia (terutama Sumatera dan Kalimantan). Rambai masih berkerabat dekat dengan menteng/kepundung, bahkan sering tertukarkan. Perbedaannya adalah bahwa bunga dan buah menteng tumbuh di ujung dahan. Selain itu, rambai relatif lebih manis. Di Thailand ia dikenal sebagai mafai-farang.
Wujudnya berupa pohon dengan tinggi 9-12 m dengan tajuk pohon yang lebar. Daunnya hijau mengilap di permukaan atas (ventral) dan agak kecoklatan dan sedikit bermiang di sisi bawah. Daun dapat dapat berukuran hingga 33 cm panjang dan 15 cm lebar. Tumbuhan ini berumah dua (dioecious), sehingga dikenal tumbuhan jantan dan tumbuhan betina. Bunganya harum dan bermahkota kuning. Benang sarinya dapat mencapai panjang 15 cm dan putiknya bahkan 75 cm. Buahnya berukuran diameter 2 sampai 5 cm dan seperti bunganya tersusun majemuk seperti rantai. Buahnya berkulit agak seperti beludru dengan warna kuning atau coklat muda, berisi 3 sampai 5 biji yang terbungkus oleh daging buah. Daging buah ini dapat dimakan mentah, direbus, atau dibuat selai dan minuman anggur.
Kayunya berkualitas rendah.


Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas:   Magnoliopsida
Ordo:   Malpighiales
Famili:             Phyllanthaceae
Genus:             Baccaurea
Spesies: B. motleyana
Nama binomial
Baccaurea motleyana Müll.Arg.

Rambai merupakan buah khas dari Asia Tenggara. Buah ini hidup terutama hidup di daerah Filipina yang disebut dengan buah rambi, di Thailand dengan sebutan mafai-farang, Malaysia dan Indonesia khususnya di Kalimantan dan Sumatra yang disebut dngan buah rambai.






Buah yang memiliki kemiripan dengan buah duku dan menteng ini juga sering disebut dengan buah menteng karena memang rasa dan bentuknya yang sangat mirip. Buah rambai ini tidak hanya dapat dinikmati dengan cara dikonsumsi langsung tetapi juga dapat di jadikan berbagai jenis makanan atau minuman seperti dijadikan selai, manisan, dan juga sirup yang terbuat dari buah rambai. Baca juga sebagaimana post tentang manfaat buah rambai.

Tak hanya enak dikonsumsi, buah rambai ternyata memiliki kandungan yang bermanfaat. Kandungan buah rambai diantaranya adalah sebagai berikut.


Berat rata-rata buah ini yaitu sekitar 19 gram yang terdiri dari 5.5 gram kulit buahnya, 12 gram daging buahnya dan 1,5 gram biji buah rambai. Setiap 100 gram buah rambai mengandung 82,3 gram air, 0,4 gram protein, 7,5 gram sakarosa, 0,2 gram serat, serta 0,5 gram abu. Manfaat buah rambusa.

Kandungan nialai gizi yang terkandung dalam 100 gram buah rambai tersebut tentunya bermanfaat untuk tubuh kita walaupun jumlah kandungannya tidak terlalu banyak. Misalnya kandungan air dalam buah ini dinilai lumayan bermanfaat untuk menahan dahaga dan serat dalam kandungan buah ini sangat baik untuk kesehatan pencernaan tubuh walaupun, memang, tidak terlalu banyak. Selain itu, diketahui bahwa buah rambai memiliki kandungan vitamin yang rendah yaitu hanya memiliki 5 gram vitamin C untuk setiap 100 gram daging buah rambai. Buah ini bahkan tidak memiliki kandugan vitamin B1 dan B2 sebagimana yang dimiliki buah pisang. Read more kandungan gizi buah pisang.

Kandungan buah rambai memang hanya berjumlah sedikit terutama untuk kandungan vitaminnya. Namun, walau begitu, buah ini memiliki rasa yang segar dan tidak memiliki kandungan negatif yang merusak tubuh yang membuat buah ini tetap dapat dikonsumsi dengan aman. Maka dari itu buah ini tetap menjadi favorit masyarakat di Sumatera dan Kalimantan. Itulah sekilas share tentang kandungan buah rambai.

Sabtu, 03 Mei 2014

Kemayau



Buah Kemayau ...! Dacryodes rostrata f. Cuspidata (Blume) HJLam adalah sinonim dari Dacryodes rostrata (Blume) HJLam. Nama ini adalah sinonim dari Dacryodes rostrata (Blume) HJLam .


Buah Kemayau kurang dikenal oleh masyarakat Indonesia, di karenakan buah ini jarang dibudidayakan orang. Pohon tersebut tumbuh subur dipinggir jalan menuju tempat mandi di sungai Lubai. Pohonnya tinggi 30 meter, lilitannya 100 centimeter, cabangnya banyak, daunnya rimbun dan buahnya lebat.


Orang Kalimantan menyebut buah ini Kembayau. Di Brunei ini disebut juga Kembayau. Sarawakians menyebutnya buah Dabai (Dabai buah). Hal ini dapat ditemukan terutama di Sibu (alias Sibu "zaitun") tapi seperti apa pun yang bisa meraup keuntungan ini sedikit buah telah membuatnya menjadi cara untuk setiap pasar di Sarawak.  

Cara memakannya adalah pertama bilas kemudian rendam dalam air hangat sampai melembutkan. Bumbui dengan garam atau kecap hitam. Rasa segar kekuningan krim. Sebenarnya Anda bisa mempertahankannya hanya dengan merendamnya dalam kendi dengan kecap hitam atau dengan garam kasar (tanpa biji). Saya percaya ada pedagang asongan yang menjual Dabai nasi goreng juga.





Hal terbaik kedua yang keluar dari satu buah tunggal benih. Cuci bersih dan dijemur sampai kering benih segitiga. Pecahkan dengan menggunakan mortir dan alu coz saya menemukan bahwa perangkat kerupuk kacang tidak bekerja pada benih ini.

Buah kemayau ini merupakan buah hutan yang sudah jarang ditemui karena menyempitnya daerah hutan dikawasan kita, tumbuhan ini biasa ditemukan didaerah rimba, dan hutan rimba sekarang sudah hampir punah, bagaimana tidak, ekspansi perkebunan dan pertambangan merajalela khususnya dikalimantan barat, menghancurkan ratusan hektar lahan, sayang sekali memang, karena saya sudah merasakan bagaimana nikmatnya buah satu ini, sungguh terkagum merasakan nikmat buah satu ini dicampur madu hutan, terasa lemak, manis dan nikmat, yumii. banyak sebenarnya potensi buah hutan yang sungguh eksotis baik rasa maupun bentuknya, tapi sayang kebanyakan dari kita mulai meninggalkan warisan alam dari hutan, khususnya hutan dikalimantan.